Artikel

Penyebab Zoom Fatigue dan Cara Mengatasinya

Rabu, 13 Oktober 2021

Berapa kali dalam sehari kamu melakukan video conference? Pernahkah kamu merasa cepat lelah setelah melakukan video conference? Atau jadi sulit tidur serta motivasi terus menurun? Itu adalah sebagian dari tanda-tanda kamu mengalami zoom fatigue.

Meski menggunakan nama salah satu aplikasi, zoom fatigue juga bisa melanda para pengguna aplikasi video conference apapun. Mulai dari Gmeet, Discord, Microsoft Teams, dan lainnya. Tapi apa sih sebenarnya zoom fatigue ini?

Zoom fatigue merupakan istilah slang yang belakangan ini cukup sering terdengar untuk menggambarkan kelelahan seseorang terhadap interaksi virtual melalui video conference. Walau sudah masuk sebagai gaya komunikasi di era kenormalan baru, nyatanya tetap ada dampak negatif dari video conference.

Jangan salah sangka, meski hanya duduk dan menatap layar, video conference itu tak kalah melelahkan, loh. Apalagi jika video conference yang mengharuskan kita untuk menyalakan kamera. Penasaran kenapa bisa seperti itu? Dilansir dari news.standford.edu, berikut empat penyebab seseorang merasakan zoom fatigue.

1. Kontak mata intens dari jarak dekat yang berlebihan

Jika dalam pertemuan secara langsung, kita bisa mengalihkan kontak mata sejenak pada objek-objek di sekitar kita. Hal ini yang tidak bisa kita lakukan saat video conference.

Meski bukan sebagai pembicara, tapi interface dari berbagai aplikasi video conference hanya memperlihatkan kontak mata yang begitu dekat. Membuat seolah-olah, seluruh pandangan tertuju kepada kita. Inilah yang kemudian menimbulkan stres.

Menurut profesor komunikasi, Jeremy Bailenson, kecemasan sosial berbicara di depan umum adalah salah satu fobia terbesar yang ada di populasi kita. "Ketika kamu berdiri di sana dan semua orang menatapmu, itu adalah pengalaman yang menegangkan," jelas pendiri Stanford Virtual Human Interaction Lab tersebut.

2. Terus menerus melihat diri sendiri seperti bercermin di sepanjang obrolan

Masih dari sumber artikel yang sama, Jeremy Bailenson menyebutkan jika kita melihat diri di cermin, maka kita cenderung lebih khawatir pada tampilan kita. Tentu hal ini yang tidak ada jika melakukan pertemuan secara langsung.

Jeremy Bailenson melanjutkan bahwa memang ada emosional negatif saat secara berkepanjangan menatap diri sendiri. Sehingga kita seringkali memaksa diri untuk berpikir keras bagaimana mengatur cara bergerak maupun merespon. Tentu melelahkan.

3. Mobilitas jadi jauh berkurang

Jika melakukan percakapan lewat telepon atau sekadar audio, kita masih bisa berjalan-jalan atau setidaknya bebas bergerak. Akan tetapi kalau sedang menyalakan kamera, maka mau tidak mau kita harus selalu berada di tempat yang sama agar kamera bisa menjangkau kita.

Ini yang menyebabkan ‘hanya duduk saja menatap layar kamera’ menjadi sangat melelahkan. Belum lagi faktor radiasi cahaya dari layar dan pencahayaan ruang yang harus disesuaikan.

4. Beban kognitif jauh lebih tinggi

Dalam pertemuan langsung, tentu kita akan melakukan beragam gestur untuk membantu menyampaikan pesan yang diinginkan. Kontak mata juga menolong dalam memastikan pesan telah dikirimkan dengan baik. Sayangnya, untuk memastikan hal tersebut dalam video conference, dibutuhkan tenaga lebih.

"Kamu harus memastikan bahwa kepalamu dibingkai di tengah video. Jika ingin menunjukkan kepada seseorang bahwa kamu setuju dengan mereka, kamu harus melakukan anggukan yang berlebihan atau mengacungkan jempol. Itu menambah beban kognitif untuk berkomunikasi," jelas Jeremy Bailenson.

Seperti yang telah dijelaskan, video conference ke depannya akan menjadi bentuk komunikasi di era kenormalan baru. Sehingga kita mesti beradaptasi. Lalu, apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi zoom fatigue?

a. Hindari Multitasking

Dilansir dari hbr.org, para peneliti di Stanford menemukan bahwa orang-orang yang melakukan banyak tugas tidak dapat mengingat hal-hal sebaik rekan-rekan mereka yang lebih fokus menyelesaikan satu persatu. Sebelum melakukan video conference, pastikan kamu sudah menutup tab halaman atau program lain. Serta jauhkan ponsel jika tidak dibutuhkan.

Nah ketika kamu fokus untuk video conference, maka kamu bisa mengatur manajemen stres diri sehingga bisa menghindari zoom fatigue.

b. Bergeraklah saat berhenti

Pastikan sebelum maraton video conference, kamu memiliki jeda waktu untuk beristirahat. Lalu ketika istirahat, bangunlah dari tempat dudukmu, dan berjalanlah sedikit ke sekitarnya.

c. Jangan mudah teralihkan

Seringkali perhatian kita saat video conference teralihkan dengan background yang dipasang oleh rekan kita. Seperti suasana rumahnya, buku-buku yang ada atau semacamnya. Itu bisa menjadi pemicu lelah juga, loh. Jadi kalau bisa, buatlah kesepakatan untuk memakai background yang polos.

d. Beralih ke panggilan telepon atau pesan teks

Sebenarnya tidak semua pembicaraan memerlukan video conference. Bila memungkinkan, cukup melalui telepon atau audio saja, bahkan bisa lewat teks. Sehingga ini bisa mengurangi intensitas video conference-mu.

Ikuti terus media sosial resmi kami melalui: Instagram (@djarumbeasiswaplus), Facebook Page (Djarum Beasiswa Plus), Twitter (@BeswanDjarum) dan YouTube (Djarum Beasiswa Plus).

Artikel terkait

Jumat, 3 Desember 2021, Pkl. 19.00 sd 21.00 WIB Nation Building Beswan Djarum 2020/2021